Minggu, 27 Maret 2016

Ilmu baru: ADMINISTRASI KURIKULUM

Ilmu baru: ADMINISTRASI KURIKULUM: BAB I PENDAHULUAN ADMINISTRASI KURIKULUM 1.1   Latar Belakang Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidi...

ADMINISTRASI KURIKULUM



BAB I
PENDAHULUAN
ADMINISTRASI KURIKULUM

1.1  Latar Belakang
Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan nasional adalah aspek kurikulum. Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran strategis dalam sistem pendidikan. Kurikulum merupakan suatu sistem program pembelajaran untuk mencapai tujuan institusional pada lembaga pendidikan, sehingga kurikulum memegang peranan penting dalam mewujudkan sekolah yang bermutu atau berkualitas. Adanya beberapa program pembaruan dalam bidang pendidikan nasional merupakan salah satu upaya untuk menyiapkan masyarakat dan bangsa Indonesia yang mampu mengembangkan kehidupan demokratis yang mantap dalam memasuki era globalisasi dan informasi sekarang ini.
    Salah satu aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan kurikulum adalah pemberdayaan bidang manajemen atau pengelolaan kurikulum di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Pengelolaan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan atau sekolah perlu dikoordinasi oleh pihak pimpinan lembaga dan pembantu pimpinan yang dikembangkan secara integral dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)  dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) serta disesuaikan dengan visi dan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan.
1.2  Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini terdapat beberapa pokok permasalahan, yaitu:
a.       Apa itu administrasi kurikulum?
b.      Apa saja komponen dari administrasi kurikulum?
c.       Apa fungsi administrasi kurikulum?
d.      Apa saja prinsip pembinaan dan pengembangan kurikulum?

1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu :
a.       Untuk menjelaskan apa itu administrasi kurikulum.
b.      Untuk menjelaskan komponen administrasi kurikulum.
c.       Untuk menjelaskan fungsi dari administrasi kurikulum.
d.      Untuk menjelaskan prinsip pembinaan dan pengembangan kurikulum.

 
 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Administrasi Kurikulum
Sebelum kita membahas pengertian administrasi kurikulum secara keseluruhan kami akan membahas secara singkat mengenai pengertian administrasi dan kurikulum ketika keduanya berdiri sendiri-sendiri.
a.       Administrasi
Secara etimologi administrasi berasal dari bahasa Latin ad dan ministro. Ad berarti kepada dan ministro berarti melayani. Secara bebas dapat diartikan bahwa administrasi merupakan pelayanan atau pengabdian terhadap subyek tertentu.
Pada zaman dulu administrasi dikenal kepada pekerjaan yang berkaitan dengan pengabdian dan pelayanan kepada raja atau menteri-menteri dalam tugas mengelola pemerintahannya. Pengertian lain yang secara sederhana juga dikemukakan oleh Murni Yusuf bahwa administrasi adalah mengarahkan. Adapun pengertian luas menurut Syaiful Sagala adalah ” Rangkaian kegiatan bersama sekelompok manusia secara sistematis untuk menjalankan roda suatu usaha atau misi organisasi agar dapat terlaksana dengan suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan.
Jadi administrasi merupakan suatu hubungan kerjasama untuk saling melayani dan mengarahkan secara teratur atau sistematis dalam sebuah organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.
b.      Kurikulum
Istilah kurikulum pada awalnya bukan dipakai dalam dunia pendidikan, yaitu dipakai sebagai istilah dalam dunia olahraga. Dalam buku Asas_asas Kurikulum, S. Nasution menyebutkan bahwa dala dalam kamu Webster kata kurikulum timbul untuk pertama kalinya pada tahun 1856, yaitu ” a race course a place for running a chariot” yang artinya suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari atau kereta dalam perlombaan dari awal sampai akhir.
Kurikilum juga berarti “chariot” yakni suatu alat yang membawa seseorang dari start sampai finish. Disamping itu, pengguna kurikulum  yang semula dalam bidang olahraga, kemudian dipakai dalam bidang pendidikan bidang pendidikan, yang dalam kamus webster disebut “applied particulary to the course of study in a university” kemudian Nasution menambahkan bahwa pada tahun 1955 dalam kamus Webster kurikulum diberi arti “sejumlah mata pelajaran disekolah atau mata kuliah di perguruan tinggi, yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat. Juga berarti keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan.
Dengan mengacu pada definisi klasik di atas, yang mengemukakan bahwa kurikulum hanya terbatas pada mata pelajaran saja, berarti ada beberapa kegiatan dan pengalaman murid yang tidak cocok dengan batasan kurikulum ini. Kegiatan-kegiatan yang disebut ekstrakurikuler (extra curiculer activities) berada di luar kurikulum, jadi pengalaman-pengalaman di sekolah tidak termasuk di dalamnya. Pengalaman-pengalaman seperti bermain di halaman sekolah, jalan, istirahat dan lain-lain sejenisnya tidak termasuk kurikulum, dianggap bukan pengalaman belajar.
Di samping hal di atas, menurut Murni Yusuf yang mengutip pendapat Nana Syaodih, bahwa terdapat tiga konsep yang terkait dengan kurikulum :
1.      Kurikulum merupakan inti pokok yang menjadi substansi kegiatan di sekolah.
Kurikulum berisi perencanaan kegiatan belajar serta tujuan yang akan dicapai.
2.      Kurikulum dipandang sebagai suatu sistem yang meliputi sistem sekolah, sistem pendidikan dan bahkan sistem masyarakat. Dalam hal ini, tercakup tata laksana perencanaan kurikulum, pelaksanaan serta evaluasi dan penyempurnaan kurikulum.
3.      Kurikulum sebagai suatu studi yang dikaji oleh para ahli di bidang kurikulum. Dalam kaitan ini, para ahli kurikulum berupaya melakukan pengembangan dan inovasi di bidang kurikulum.
Saat ini para pemuka pendidikan menonjolkan kenyataan bahwa belajar pada tiap anak merupakan proses yang berlangsung selama 24 jam tiap hari. Mereka berpendapat pengalaman-pengalaman dalam perkumpulan kesenian dan olah raga disekolah dalam darmawisata dan lain-lain, kesemuanya merupakan situasi-situasi belajar yang kaya akan pendidikan. Karena kurikulum meliputi segala  pengalaman yang sengaja diberikan sekolah untuk memupuk perkembangan anak-anak dengan jalan menciptakan situasi belajar-mengajar
c.       Administrasi Kurikulum
Setelah kita mengetahui secara selayang pandang pengertian masing-masing dari administrasi dan kurikulum, dapat kita simpulkan pengertian administrasi kurikulum secara keseluruhan. Administrasi kurikulum merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinyu terhadap situasi belajar mengajar secara efektif dan efisien demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

2.2         Komponen Kurikulum
Mengingat bahwa fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka hal ini berarti bahwa sebagai alat pendidikan, kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya dengan baik. Bagian-bagian ini disebut komponen yang saling berkaitan berinteraksi dalam upaya mencapai tujuan.
Menurut Hasan Langgulung ada 4 komponen utama kurikulum, yaitu :
a.       Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
b.      Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut mata pelajaran.
c.       Metode dan cara-cara mengajar yang di pakai oleh guru-guru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka kea rah yang dikahendaki oleh kurikulum.
d.      Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.


2.3  Fungsi Administrasi Kurikulum
Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan administrasi kurikulum agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum berjalan lebih efektif, efisien dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber belajar, pengalaman belajar maupun komponen kurikulum. Ada beberapa fungsi dari administrasi kurikulum diantaranya:
1.      Meningkatkan efisien pemanfaatan sumber daya kurikulum, pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.
2.      Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakurikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstrakurikuler yang di kelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.
3.      Meningkatkan relecansi dan efektifitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar peserta didik, kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberika kesempatan dan hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar.
4.      Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, pengelolaan kurikulum yang profesional, efektif dan terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja guru maupun aktivitas sisiwa dalam belajar.
5.      Meningkatkan efisien dan efektivitas proses belajar, proses pembelajaran selalu dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara desain yang telah direncanakan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, ketidaksesuaiaan antara desain dengan implementasi dapat dihindarkan. Disamping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien karena adanya dukungan kondisi positif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolahan kurikulum.
6.      Menigkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengembangkan kurikulum. Kurikulum yang dikelola secara profesional akan melibatkan masyarakat khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu disesuaikan dengan ciri khas dan kebutuuhan pembangunan daerah setempat.
2.4   Prinsip Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum dibina dan dikembangkan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang dianutnya. Prinsip itu pada dasarnya merupakan kaidah yang menjiwai kurikulum tersebut. Prinsip-prinsip yang biasa digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Menurut Sudirman S, antara lain:
a.       Prinsip Orientasi Pada Tujuan
Implikasi prinsip ini mengusahakan agar seluruh kegiatan kurikuler terarah dan diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan sebelumnya.
b.      Prinsip Relevansi
Secara umum istilah relevansi diartikan sebagai kesesuaian atau keserasian pendidikan dengan tuntunan kehidupan masyarakat. Artinya pendidikan dipandang relevan jika hasil perolehan pendidikan itu bersifat fungsional. Masalah relevansi ini dapat dikaji sekurang-kurangnya lewat tiga segi:
1.      Relevansi pendidikan dengan lingkungan para murid. Artinya dalam penetapan bahan pendidikan yang akan disajikan haruslah sesuai dengan apa yang ada dalam lingkungan sekitar murid.
2.      Relevansi dengan pengembangan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Misalnya topik sajian “pembuatan kipas dari bambu” untuk penduduk kota, kiranya kurang tepat sebab di kota sekarang ini memasak menggunakan kompor minyak atau kompor gas yang tidak memerlukan kipas dari bambu.
3.      Relevansi dengan tuntutan dalam dunia pekerjaan. Dalam menetapkan kegiatan belajar dan pengalaman belajar siswa hendaknya diorientasikan dengan tuntutan dalam dunia pekerjaan atau konsumen pemakai lulusan atau konsumennya nanti. Misalnya para murid SMEA harus banyak diajarkan surat-menyurat, mengetik komputer, dan lain-lain sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemakai lulusan atau konsumennya nanti.
c.       Prinsip Efektifitas
Implikasi prinsip ini dalam pengembangan kurikulum ialah mengusahakan agar setiap kegiatan kurikuler membuahkan hasil tanpa ada kegiatan yang mubazir dan terbuang percuma.
d.      Prinsip Efisiensi
Implikasi prinsip ini mengusahakan agar kegiatan kurikuler mendayagunakan waktu, tenaga, biaya dan sumber-sumber lain secara cermat dan tepat sehingga hasil kegiatan kurikuler itu mewadahi dan memenuhi harapan.
e.       Prinsip Fleksibilitas
Fleksibilitas ini diartikan lentur/tidak kaku dalam memberikan kebebasan bertindak. Dalam kurikulum pengertian itu dimaksudkan dalam memilih program-program pendidikan bagi murid dan kebebasan dalam mengembangkan program pendidikan bagi para guru. Misalnya pengadaan program pilihan yang sesuai dengan kemampuan dan minat murid.
f.       Prinsip Integritas
Implikasi prinsip ini mengusahakan agar pendidikan dalam suatu kurikulum menghasilkan manusia seutuhnya walaupun kegiatan kurikulernya terjabar dalam komponen kurikulum.
g.      Prinsip Sinkronisasi
Implikasi prinsip ini mengusahakan agar seluruh kegiatan kurikuler seirama, searah dan satu tujuan. Jangan sampai terjadi suatu kegiatan kurikuler menghambat, berlawanan atau mematikan kegiatan-kegiatan kurikuler lainnya.
h.      Prinsip kesinambungan (kontinuitas)
Implikasi prinsip ini mengusahakan agar antara berbagai tingkat dari jenis program pendidikan saling berhubungan. Dalam tatanan bahan kurikuler yang dikaitkan atau saling menjalin.
1.      Kesinambungan antar berbagai tingkat sekolah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
2.      Bahan-bahan pelajaran hendaknya sambung-menyambung antara tingkat yang satu dengan tingkat yang lain yang lebih tinggi.
3.      Bahan pelajaran yang sudah disajikan pada tingkat sekolah yang lebih rendah tidak perlu lagi disajikan pada tingkat sekolah yang lebih tinggi.
4.      Kesinambungan antara berbagai tingkat studi. Seringkali bahan sajian dalam berbagai bidang studi mempunyai hubungan yang satu dengan yang lain.
i.        Objektifitas
      Implikasi prinsip ini mengusahakan agar semua kegiatan kurikuler dilakukan dengan kegiatan catatan kebenaran ilmiah dengan mengenyampingkan pengaruh-pengaruh emosional dan irisional.
j.        Prinsip Demokrasi
Implikasi prinsip ini ialah mengusahakan agar dalam penyelenggaraan pendidikan dikelola dan dilaksanakan secara demokrasi.


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Administrasi kurikulum merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinyu terhadap situasi belajar mengajar secara efektif dan efisien demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Komponen utama kurikulum, yaitu : Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu, Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu, Metode dan cara-cara mengajar yang di pakai oleh guru-guru, Metode dan cara penilaian yang dipergunakanSaran.
Fungsi dari administrasi kurikulum diantaranya: Meningkatkan efisien pemanfaatan sumber daya kurikulum, Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, Meningkatkan relecansi dan efektifitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik, Meningkatkan efektivitas kinerja guru, Meningkatkan efisien dan efektivitas proses belajar, dan Menigkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengembangkan kurikulum.
Prinsip-prinsip yang biasa digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum, yaitu : Prinsip Orientasi Pada Tujuan, Prinsip Relevansi, Efektifitas, Efisiensi, Fleksibilitas, Integritas, Sinkronisasi, Prinsip kesinambungan (kontinuitas), Objektifitas dan Prinsip Demokrasi

3.2    Saran
Dalam mekanisme pelaksanaan kurikulum pendidikan ini penulis menyarankan agar dibentuknya suatu kerjasama baik itu dari pihak sekolah, masyarakat maupun siswa  supaya terwujudnya kurikulum yang efektif dan efisien dan sekolah mampu membentuk generasai-generasi yang berpotensi.

Kamis, 31 Desember 2015

AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DAN SPIRITUAL ISLAM



AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DAN SPIRITUAL ISLAM


PENDAHULUAN

A.      Latar belakang
Luas pulau Jawa hanya 7% dari luas seluruh wilayah Indonesia, tetapi jumlah penduduknya hampir dua per tiga (64%) dari jumlah penduduk Indonesia. Keadaan pulau Jawa bersifat agraris, kebanyakan penduduknya hidup sebagai petani, mereka tingggal di desa-desa. Dewasa ini orang Jawa telah tersebar luas mendiami hampir di seluruh pulau wilayah kepulauan Indonesia.
Arus pengaruh Islam yang masuk ke Indonesia terutama pantai utara Jawa itu dari Gurajat, dimana agama Islam telah disesuaikan dengan jalan pemikiran India (Hindu), maka agama Islam yang tersebar di pantai utara Jawa pada awal abad lima belas, banyak mengandung unsur mistik. Demak, di samping sebagai pusat pemerintahan, juga menjadi pusat penyeberan Islam yang dilakukan oleh para wali yang terkenal dengan ‘Wali Sembilan”.
Dalam penulisan makalah ini dilatar belakangi oleh peleburan kebudayaan spiritual masyarakat Jawa dan kebudayaan spiritual Islam.
B.       Rumusan masalah
Dalam penulisan makalah ini terdapat beberapa permasalahan pokok, yaitu:
1.    Apa itu akulturasi?
2.    Apa saja hasil akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan kebudayaan Islam?
C.       Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain:
1.    Untuk mempelajari dan mengetahui apa itu akulturasi.
2.    Untuk mempelajari dan mengetahu apa saja yang termasuk dalam hasil akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan kebudayaan Islam.


PEMBAHASAN

A.           Pengertian Akulturasi

Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu sosiologi yang berarti pengambilalihan unsur-unsur kebudayaan lain. Akulturasi terjadi karena adanya keterbukaan suatu masyarakat. Selain itu “perkawinan” dua kebudayaan bisa terjadi karena pemaksaan dari kebudayaan asing yang memasukkan unsur kebudayaan mereka. Selain kedua hal itu, akulturasi dapat juga terjadi karena beberapa hal, antara lain: kontak dengan budaya lain, sistem pendidikan yang maju yang mengajarkan seseorang untuk lebih berfikir ilmiah dan objektif, keinginan untuk maju, sikap mudah menerima hal-hal baru dan toleransi terhadap perubahan. (Edy Sedyawati, 2012)

 Contoh akulturasi budaya adalah bangunan masjid kudus yang merupakan hasil akulturasi antara Islam dan Jawa (Hindu).

B.            Hasil akulturasi Kebudayaan Masyarakat Jawa dan  Kebudayaan Islam

Perpindahan pusat kerjaan Islam dari Demak ke Panjang kemudian dari Panjang ke Mataram, dimana Panjang dan Mataram merupakan daerah pedalaman yang ekonominya lebih mendasar pada pertanian. Panjang adalah daerah  yang letaknya dekat Yogyakarta, kedua daerah ini pada zaman lampau merupakan daerah yang kuat menerima pengaruh kebudayaan spiritual Hindu-Budha di daerah seperti ini pulalah timbulnya cerita-cerita legenda tentang orang-orang sakti. (Suwarno Imam, 2005)

Pengaruh kebudayaan spiritual Islam terhadap kebudayaan spiritual Jawa tidak sekaligus, tetapi berlangsung sedikit demi sedikit. Timbulnya cerita legenda dan orang-orang sakti merupakan bukti kebudayaan spiritual Islam yang dikembangkan oleh para wali dengan toleransi yang tinggi telah berhasil dalam mengadaptasikan dan mengembangkan kebudayaan spiritual Jawa sebelumnya dalam bentuk yang baru yakni kebudayaaan spiritual Islam-Jawa. (Muhammad Kosim, 2012)

Setelah kebudayaan spiritual Islam bertemu dengan kebudayaan spiritual Jawa, kemudian mengalami proses akulturasi dan sinkretisme, akhirnya memadu dalam bentuk akulturasi (pencampuran kebudayaan spiritual) dapat dilihat sebagai berikut:

Pertama, tampak pada tradisi upacara grebeg maulid pada masa pemerintahan Sultan Agung. Tradisi grebeg maulid ini berasal dari tradisi upacara setengah tahunan zaman Majapahit pada abad ke-14 yang kemudian ditransformasikan ke zaman Mataram pada abad ke-17 melaui kesultanan Demak. Tradisi grebeg maulid ini masih berlangsung terus di keraton Yogyakarta setiap tahun sampai sekarang. Tradisi upacara grebeg ini merupakan bentuk akulturasi antara tradisi upacara setengah tahunan pada zaman Majapahit (Hindu-Jawa) dan tradisi upacara maulid (kebudayaan spiritual Islam). Rafael Raga Maran, 2007)

Kedua, pada zaman Mataram tampak pada upaya kerajaan ini untuk mencari hubungan kembali dengan zaman Islam, bahkan upaya untuk mempersatukanya  antara yang baru (Islam) dengan yang lama (Hindu), berhasil menjadi kenyataan, dengan tindakannya memadukan tahun Hijriah (Islam) dengan tahun Saka (Hindu) menjadi tahun Jawa. Tahun Jawa ini ditetapkan oleh Sultan Agung dan merupakan  bentuk akulturasi antara tahun Saka yang di hitungnya berdasarkan peredaran matahari dan tahun Hijriah yang berdasarkan peredaran bulan. (Suwarno Imam, 2005)

Ketiga, tampak dalam seni bangunan, khusunya bangunan pintu gerbang masjid dam makam. Sebelum zaman Islam seni bangunan gerbang baik masjid maupun makam bercorak Hindu. Kemudian berubah coraknya menjadi tampak ciri-ciri Islamnya, seperti pada pintu gerbang masjid di Giri dan pintu gerbang makam di Kota Gede dekat Yogyakarta. Seni bangunan ini merupakan akulturasi antara corak seni bangunan Hindu-Jawa dan corak seni bangunan Islam. (Syaikh Muhammad Abdullah,  2012)

Keempat, juga tampak dalam seni pahat dan seni lukis. Bila kebudayaan spiritual Islam menyukai seni melukis atau memahat tulisan ayat-ayat Al-Quran dengan huruf Arab (seni kaligrafi) dan kebudayaan spiritual Hindu-Jawa menyukai lukisan tokoh-tokoh wayang, maka para seniman mencoba memadukan dalam bentuk lukisan atau pahatan tokoh wayang dengan huruf-huruf Arab. Bila pahatan atau lukisan itu dilihat dari dekat, terdiri dari huruf-huruf Arab seluruhnya, tetapi bila dilihat dari kejauhan, huruf-huruf Arab seluruhnya itu membentuk salah satu tokoh wayang. Seni pahat dan lukis ini juga merupakan akulturasi antara seni lukis atau pahat tokoh wayang (kedudayaan spiritual Hindu-Jawa) dan seni lukisan atau pahatan tulisan ayat-ayat Al-Quran dengan huruf-huruf Arab (kebudayaan spiritual Islam). (Edy Sedyawati, 2012)

Kelima, pengaruh yang penting tampak dalam karya kesusasteraan dengan lahirnya naskah-naskah Jawa yang bernuansa mistik dan keislaman sejak zaman Mataram. Karya-karya kesusasteraan juga merupakan akulturasi antara karya kesusasteraan Hindu-Jawa dan karya kesusasteraan kebudayaan spiritual Islam terutama dari segi isinya. Karya-karya kesusasteraan di zaman Mataram berisi ajaran mistik. Sementara itu, karya-karya kesusasteraan di zaman Kartasura berisi cerita campuran antara cerita Jawa dan cerita Islam seperti serat Menak dan serat Kanda. Di zaman Surakarta lahir serat-serat yang berisi cerita lakon wayang, ajaran moral dan budi pekerti serta ilmu kesempurnaan. (Rafael Raga Maran, 2007)

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu sosiologi yang berarti pengambilalihan unsur-unsur kebudayaan lain. Akulturasi terjadi karena adanya keterbukaan suatu masyarakat.

Adapun hasil dari akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan kebudayaan Islam, antara lain tradisi upacara grebeg, Tahun Jawa, seni bangunan khusunya bangunan pintu gerbang masjid dam makam, seni pahat dan seni lukis,  dalam karya kesusasteraan.

B.  Saran
Setelah selsainya penulisan makalah ini penulis mempunyai beberaapa saran, yaitu :
1.    Hendaknya kita menjaga keeratan keluarga antar umat beragama.
2.    Hendaknya kita tetap teguh pada semboyan bangsa kita “bhineka tunggal ika”.


DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, S. M. (2012). Islam Ilmu Pengetahuan Dan Masyarakat Madani. Jakarta: Bumi Aksara.
Imam, S. (2005). Manusia, Mistik dalam Berbagai Kebatinan Jawa. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Kaelan. (2012). Islam Dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan. Jakarta: Bumi Aksara.
Kosim, M. (2012). Ritual dan Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Maran, R. R. (2007). Manusia Dan Kebudayaan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sedyawati, E. (2012). Budaya Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.