Ilmu baru
Minggu, 27 Maret 2016
Ilmu baru: ADMINISTRASI KURIKULUM
Ilmu baru: ADMINISTRASI KURIKULUM: BAB I PENDAHULUAN ADMINISTRASI KURIKULUM 1.1 Latar Belakang Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidi...
ADMINISTRASI KURIKULUM
BAB I
PENDAHULUAN
ADMINISTRASI
KURIKULUM
1.1 Latar Belakang
Salah satu aspek yang berpengaruh
terhadap keberhasilan pendidikan nasional adalah aspek kurikulum. Kurikulum
merupakan salah satu komponen yang memiliki peran strategis dalam sistem
pendidikan. Kurikulum merupakan suatu sistem program pembelajaran untuk
mencapai tujuan institusional pada lembaga pendidikan, sehingga kurikulum
memegang peranan penting dalam mewujudkan sekolah yang bermutu atau
berkualitas. Adanya beberapa program pembaruan dalam bidang pendidikan nasional
merupakan salah satu upaya untuk menyiapkan masyarakat dan bangsa Indonesia
yang mampu mengembangkan kehidupan demokratis yang mantap dalam memasuki era
globalisasi dan informasi sekarang ini.
Salah satu aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan kurikulum adalah pemberdayaan bidang manajemen atau pengelolaan kurikulum di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Pengelolaan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan atau sekolah perlu dikoordinasi oleh pihak pimpinan lembaga dan pembantu pimpinan yang dikembangkan secara integral dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) serta disesuaikan dengan visi dan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Salah satu aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan kurikulum adalah pemberdayaan bidang manajemen atau pengelolaan kurikulum di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Pengelolaan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan atau sekolah perlu dikoordinasi oleh pihak pimpinan lembaga dan pembantu pimpinan yang dikembangkan secara integral dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) serta disesuaikan dengan visi dan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam
penulisan makalah ini terdapat beberapa pokok permasalahan, yaitu:
a.
Apa
itu administrasi kurikulum?
b.
Apa
saja komponen dari administrasi kurikulum?
c.
Apa
fungsi administrasi kurikulum?
d.
Apa
saja prinsip pembinaan dan pengembangan kurikulum?
1.3 Tujuan
Adapun
tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu :
a.
Untuk
menjelaskan apa itu administrasi kurikulum.
b.
Untuk
menjelaskan komponen administrasi kurikulum.
c.
Untuk
menjelaskan fungsi dari administrasi kurikulum.
d.
Untuk
menjelaskan prinsip pembinaan dan pengembangan kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Administrasi Kurikulum
Sebelum
kita membahas pengertian administrasi kurikulum secara keseluruhan kami akan
membahas secara singkat mengenai pengertian administrasi dan kurikulum ketika
keduanya berdiri sendiri-sendiri.
a.
Administrasi
Secara etimologi administrasi
berasal dari bahasa Latin ad dan ministro. Ad berarti kepada dan ministro berarti melayani. Secara bebas dapat diartikan bahwa administrasi merupakan
pelayanan atau pengabdian terhadap subyek tertentu.
Pada zaman dulu administrasi
dikenal kepada pekerjaan yang berkaitan dengan pengabdian dan pelayanan kepada
raja atau menteri-menteri dalam tugas mengelola pemerintahannya. Pengertian
lain yang secara sederhana juga dikemukakan oleh Murni Yusuf bahwa administrasi
adalah mengarahkan. Adapun pengertian luas menurut Syaiful Sagala adalah ”
Rangkaian kegiatan bersama sekelompok manusia secara sistematis untuk
menjalankan roda suatu usaha atau misi organisasi agar dapat terlaksana dengan
suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan.
Jadi administrasi merupakan suatu
hubungan kerjasama untuk saling melayani dan mengarahkan secara teratur atau
sistematis dalam sebuah organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan
bersama.
b.
Kurikulum
Istilah kurikulum pada awalnya
bukan dipakai dalam dunia pendidikan, yaitu dipakai sebagai istilah dalam dunia
olahraga. Dalam buku Asas_asas Kurikulum, S. Nasution menyebutkan bahwa dala
dalam kamu Webster kata kurikulum timbul untuk pertama kalinya pada tahun 1856,
yaitu ” a race course a place for running a chariot” yang artinya suatu jarak
yang harus ditempuh oleh pelari atau kereta dalam perlombaan dari awal sampai
akhir.
Kurikilum juga berarti “chariot”
yakni suatu alat yang membawa seseorang dari start sampai finish. Disamping
itu, pengguna kurikulum yang semula
dalam bidang olahraga, kemudian dipakai dalam bidang pendidikan bidang pendidikan, yang dalam kamus webster disebut
“applied particulary to the course of study in a university” kemudian Nasution
menambahkan bahwa pada tahun 1955 dalam kamus Webster kurikulum diberi arti
“sejumlah mata pelajaran disekolah atau mata kuliah di perguruan tinggi, yang
harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat. Juga berarti
keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan.
Dengan mengacu pada definisi klasik di atas, yang
mengemukakan bahwa kurikulum hanya terbatas pada mata pelajaran saja, berarti
ada beberapa kegiatan dan pengalaman murid yang tidak cocok dengan batasan
kurikulum ini. Kegiatan-kegiatan yang disebut ekstrakurikuler (extra curiculer
activities) berada di luar kurikulum, jadi pengalaman-pengalaman di sekolah
tidak termasuk di dalamnya. Pengalaman-pengalaman seperti bermain di halaman
sekolah, jalan, istirahat dan lain-lain sejenisnya tidak termasuk kurikulum,
dianggap bukan pengalaman belajar.
Di samping hal di atas, menurut Murni Yusuf yang
mengutip pendapat Nana Syaodih, bahwa terdapat tiga konsep yang terkait dengan
kurikulum :
1. Kurikulum merupakan inti pokok yang menjadi substansi
kegiatan di sekolah.
Kurikulum
berisi perencanaan kegiatan belajar serta tujuan yang akan dicapai.
2. Kurikulum dipandang sebagai suatu sistem yang meliputi
sistem sekolah, sistem pendidikan dan bahkan sistem masyarakat. Dalam hal ini,
tercakup tata laksana perencanaan kurikulum, pelaksanaan serta evaluasi dan
penyempurnaan kurikulum.
3. Kurikulum sebagai suatu studi yang dikaji oleh para
ahli di bidang kurikulum. Dalam kaitan ini, para ahli kurikulum berupaya
melakukan pengembangan dan inovasi di bidang kurikulum.
Saat ini para pemuka pendidikan menonjolkan kenyataan
bahwa belajar pada tiap anak merupakan proses yang berlangsung selama 24 jam
tiap hari. Mereka berpendapat pengalaman-pengalaman dalam perkumpulan kesenian
dan olah raga disekolah dalam darmawisata dan lain-lain, kesemuanya merupakan
situasi-situasi belajar yang kaya akan pendidikan. Karena kurikulum meliputi
segala pengalaman yang sengaja diberikan sekolah untuk memupuk
perkembangan anak-anak dengan jalan menciptakan situasi belajar-mengajar
c.
Administrasi
Kurikulum
Setelah kita mengetahui secara selayang pandang
pengertian masing-masing dari administrasi dan kurikulum, dapat kita simpulkan
pengertian administrasi kurikulum secara keseluruhan. Administrasi kurikulum
merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara
sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinyu terhadap situasi
belajar mengajar secara efektif dan efisien demi membantu tercapainya tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan.
2.2
Komponen
Kurikulum
Mengingat bahwa fungsi kurikulum
dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan,
maka hal ini berarti bahwa sebagai alat pendidikan, kurikulum memiliki
bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya dengan
baik. Bagian-bagian ini disebut komponen yang saling berkaitan berinteraksi
dalam upaya mencapai tujuan.
Menurut
Hasan Langgulung ada 4 komponen utama kurikulum, yaitu :
a.
Tujuan-tujuan
yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang
bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
b.
Pengetahuan
(knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman
dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut mata pelajaran.
c.
Metode
dan cara-cara mengajar yang di pakai oleh guru-guru untuk mengajar dan
memotivasi murid untuk membawa mereka kea rah yang dikahendaki oleh kurikulum.
d.
Metode
dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan
hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.
2.3 Fungsi Administrasi Kurikulum
Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan
administrasi kurikulum agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum
berjalan lebih efektif, efisien dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber
belajar, pengalaman belajar maupun komponen kurikulum. Ada beberapa fungsi dari
administrasi kurikulum diantaranya:
1. Meningkatkan efisien pemanfaatan sumber daya
kurikulum, pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat ditingkatkan
melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.
2. Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada
siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai
peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakurikuler, tetapi juga perlu
melalui kegiatan ekstrakurikuler yang di kelola secara integritas dalam
mencapai tujuan kurikulum.
3. Meningkatkan relecansi dan efektifitas pembelajaran
sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar peserta didik,
kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberika kesempatan dan hasil
yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar.
4. Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas
siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, pengelolaan kurikulum yang
profesional, efektif dan terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja guru
maupun aktivitas sisiwa dalam belajar.
5. Meningkatkan efisien dan efektivitas proses belajar,
proses pembelajaran selalu dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara
desain yang telah direncanakan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan
demikian, ketidaksesuaiaan antara desain dengan implementasi dapat dihindarkan.
Disamping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk melaksanakan
pembelajaran yang efektif dan efisien karena adanya dukungan kondisi positif
yang diciptakan dalam kegiatan pengelolahan kurikulum.
6. Menigkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu
mengembangkan kurikulum. Kurikulum yang dikelola secara profesional akan
melibatkan masyarakat khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar
perlu disesuaikan dengan ciri khas dan kebutuuhan pembangunan daerah setempat.
2.4 Prinsip Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum dibina dan dikembangkan
berdasarkan pada prinsip-prinsip yang dianutnya. Prinsip itu pada dasarnya
merupakan kaidah yang menjiwai kurikulum tersebut. Prinsip-prinsip yang biasa
digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Menurut Sudirman S, antara lain:
a.
Prinsip
Orientasi Pada Tujuan
Implikasi prinsip ini mengusahakan
agar seluruh kegiatan kurikuler terarah dan diarahkan untuk mencapai tujuan
pendidikan yang telah dirumuskan sebelumnya.
b. Prinsip Relevansi
Secara umum istilah relevansi
diartikan sebagai kesesuaian atau keserasian pendidikan dengan tuntunan kehidupan
masyarakat. Artinya pendidikan dipandang relevan jika hasil perolehan
pendidikan itu bersifat fungsional. Masalah relevansi ini dapat dikaji
sekurang-kurangnya lewat tiga segi:
1. Relevansi pendidikan dengan
lingkungan para murid. Artinya dalam penetapan bahan pendidikan yang akan
disajikan haruslah sesuai dengan apa yang ada dalam lingkungan sekitar murid.
2. Relevansi dengan pengembangan
kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Misalnya topik sajian “pembuatan
kipas dari bambu” untuk penduduk kota, kiranya kurang tepat sebab di kota
sekarang ini memasak menggunakan kompor minyak atau kompor gas yang tidak
memerlukan kipas dari bambu.
3. Relevansi dengan tuntutan dalam
dunia pekerjaan. Dalam menetapkan kegiatan belajar dan pengalaman belajar siswa
hendaknya diorientasikan dengan tuntutan dalam dunia pekerjaan atau konsumen
pemakai lulusan atau konsumennya nanti. Misalnya para murid SMEA harus banyak
diajarkan surat-menyurat, mengetik komputer, dan lain-lain sesuai dengan apa
yang diharapkan oleh pemakai lulusan atau konsumennya nanti.
c. Prinsip Efektifitas
Implikasi prinsip ini dalam
pengembangan kurikulum ialah mengusahakan agar setiap kegiatan kurikuler
membuahkan hasil tanpa ada kegiatan yang mubazir dan terbuang percuma.
d. Prinsip Efisiensi
Implikasi prinsip ini
mengusahakan agar kegiatan kurikuler mendayagunakan waktu, tenaga, biaya dan
sumber-sumber lain secara cermat dan tepat sehingga hasil kegiatan kurikuler
itu mewadahi dan memenuhi harapan.
e. Prinsip Fleksibilitas
Fleksibilitas ini diartikan
lentur/tidak kaku dalam memberikan kebebasan bertindak. Dalam kurikulum
pengertian itu dimaksudkan dalam memilih program-program pendidikan bagi murid
dan kebebasan dalam mengembangkan program pendidikan bagi para guru. Misalnya
pengadaan program pilihan yang sesuai dengan kemampuan dan minat murid.
f. Prinsip Integritas
Implikasi prinsip ini
mengusahakan agar pendidikan dalam suatu kurikulum menghasilkan manusia
seutuhnya walaupun kegiatan kurikulernya terjabar dalam komponen kurikulum.
g. Prinsip Sinkronisasi
Implikasi prinsip ini
mengusahakan agar seluruh kegiatan kurikuler seirama, searah dan satu tujuan.
Jangan sampai terjadi suatu kegiatan kurikuler menghambat, berlawanan atau
mematikan kegiatan-kegiatan kurikuler lainnya.
h. Prinsip kesinambungan
(kontinuitas)
Implikasi prinsip ini
mengusahakan agar antara berbagai tingkat dari jenis program pendidikan saling
berhubungan. Dalam tatanan bahan kurikuler yang dikaitkan atau saling menjalin.
1. Kesinambungan antar berbagai
tingkat sekolah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
2. Bahan-bahan pelajaran hendaknya
sambung-menyambung antara tingkat yang satu dengan tingkat yang lain yang lebih
tinggi.
3. Bahan pelajaran yang sudah
disajikan pada tingkat sekolah yang lebih rendah tidak perlu lagi disajikan
pada tingkat sekolah yang lebih tinggi.
4. Kesinambungan antara berbagai
tingkat studi. Seringkali bahan sajian dalam berbagai bidang studi mempunyai
hubungan yang satu dengan yang lain.
i.
Objektifitas
Implikasi prinsip ini mengusahakan agar semua kegiatan kurikuler dilakukan dengan kegiatan catatan kebenaran ilmiah dengan mengenyampingkan pengaruh-pengaruh emosional dan irisional.
Implikasi prinsip ini mengusahakan agar semua kegiatan kurikuler dilakukan dengan kegiatan catatan kebenaran ilmiah dengan mengenyampingkan pengaruh-pengaruh emosional dan irisional.
j.
Prinsip
Demokrasi
Implikasi prinsip ini ialah
mengusahakan agar dalam penyelenggaraan pendidikan dikelola dan dilaksanakan
secara demokrasi.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Administrasi
kurikulum merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan
secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinyu terhadap
situasi belajar mengajar secara efektif dan efisien demi membantu tercapainya
tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Komponen
utama kurikulum, yaitu : Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu, Pengetahuan
(knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan
pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu, Metode dan cara-cara
mengajar yang di pakai oleh guru-guru, Metode dan cara penilaian yang
dipergunakanSaran.
Fungsi dari administrasi kurikulum diantaranya: Meningkatkan efisien pemanfaatan
sumber daya kurikulum, Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa
untuk mencapai hasil yang maksimal, Meningkatkan relecansi dan efektifitas
pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik, Meningkatkan efektivitas
kinerja guru, Meningkatkan efisien dan efektivitas proses belajar, dan Menigkatkan
partisipasi masyarakat untuk membantu mengembangkan kurikulum.
Prinsip-prinsip yang biasa
digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum, yaitu : Prinsip Orientasi Pada
Tujuan, Prinsip Relevansi, Efektifitas, Efisiensi, Fleksibilitas, Integritas, Sinkronisasi,
Prinsip kesinambungan (kontinuitas), Objektifitas dan Prinsip Demokrasi
3.2
Saran
Dalam
mekanisme pelaksanaan kurikulum pendidikan ini penulis menyarankan agar
dibentuknya suatu kerjasama baik itu dari pihak sekolah, masyarakat maupun
siswa supaya terwujudnya kurikulum yang
efektif dan efisien dan sekolah mampu membentuk generasai-generasi yang
berpotensi.
Selasa, 15 Maret 2016
Ilmu baru: Hubungan Antara Alqur'an dan Sains
Ilmu baru: Hubungan Antara Alqur'an dan Sains: Hubungan Antara Alqur'an dan Sains Bagian 1 Firman Allah Ta'ala yang artinya: "Allah telah menjadikan Ka'bah, r...
Ilmu baru: AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DA...
Ilmu baru: AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DA...: AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DAN SPIRITUAL ISLAM PENDAHULUAN A. Latar belakang Luas pulau Jawa h...
Kamis, 31 Desember 2015
AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DAN SPIRITUAL ISLAM
AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DAN SPIRITUAL ISLAM
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Luas pulau Jawa hanya 7% dari luas seluruh wilayah
Indonesia, tetapi jumlah penduduknya hampir dua per tiga (64%) dari jumlah
penduduk Indonesia. Keadaan pulau Jawa bersifat agraris, kebanyakan penduduknya
hidup sebagai petani, mereka tingggal di desa-desa. Dewasa ini orang Jawa telah tersebar luas mendiami hampir di seluruh pulau wilayah
kepulauan Indonesia.
Arus pengaruh Islam yang masuk ke Indonesia terutama
pantai utara Jawa itu dari Gurajat, dimana agama Islam telah disesuaikan dengan
jalan pemikiran India (Hindu), maka agama Islam yang tersebar di
pantai utara Jawa pada awal abad lima belas, banyak mengandung unsur mistik.
Demak, di samping sebagai pusat pemerintahan, juga menjadi pusat penyeberan Islam yang dilakukan oleh para
wali yang terkenal dengan ‘Wali Sembilan”.
Dalam penulisan makalah ini dilatar belakangi oleh
peleburan kebudayaan spiritual masyarakat Jawa dan kebudayaan spiritual Islam.
B. Rumusan masalah
Dalam penulisan makalah ini terdapat beberapa
permasalahan pokok, yaitu:
1. Apa itu
akulturasi?
2. Apa saja hasil akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan
kebudayaan Islam?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain:
1. Untuk
mempelajari dan mengetahui apa itu akulturasi.
2. Untuk mempelajari dan mengetahu apa saja yang termasuk
dalam hasil akulturasi kebudayaan
masyarakat Jawa dan kebudayaan Islam.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Akulturasi
Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu sosiologi yang berarti
pengambilalihan unsur-unsur kebudayaan lain. Akulturasi terjadi karena adanya
keterbukaan suatu
masyarakat. Selain itu “perkawinan” dua kebudayaan bisa terjadi karena
pemaksaan dari kebudayaan asing yang memasukkan unsur kebudayaan mereka. Selain
kedua hal itu, akulturasi dapat juga terjadi karena beberapa hal, antara lain: kontak dengan
budaya lain, sistem
pendidikan yang maju yang mengajarkan seseorang untuk lebih berfikir ilmiah dan
objektif, keinginan untuk maju, sikap mudah menerima hal-hal baru dan toleransi
terhadap perubahan. (Edy Sedyawati, 2012)
Contoh akulturasi budaya adalah
bangunan masjid kudus yang merupakan hasil akulturasi antara Islam dan Jawa (Hindu).
B.
Hasil akulturasi Kebudayaan Masyarakat Jawa dan
Kebudayaan Islam
Perpindahan pusat kerjaan Islam dari Demak ke Panjang kemudian dari Panjang ke Mataram, dimana Panjang dan Mataram merupakan
daerah pedalaman yang ekonominya lebih mendasar pada pertanian. Panjang adalah
daerah yang letaknya dekat Yogyakarta,
kedua daerah ini pada zaman lampau merupakan daerah yang kuat menerima pengaruh kebudayaan spiritual
Hindu-Budha di daerah seperti ini pulalah timbulnya cerita-cerita legenda
tentang orang-orang sakti. (Suwarno Imam, 2005)
Pengaruh kebudayaan spiritual Islam terhadap kebudayaan
spiritual Jawa tidak sekaligus, tetapi berlangsung sedikit demi sedikit. Timbulnya
cerita legenda dan orang-orang sakti merupakan bukti kebudayaan spiritual Islam yang dikembangkan oleh
para wali dengan toleransi yang tinggi
telah berhasil dalam mengadaptasikan dan mengembangkan kebudayaan spiritual
Jawa sebelumnya dalam
bentuk yang baru yakni kebudayaaan spiritual Islam-Jawa. (Muhammad Kosim, 2012)
Setelah kebudayaan spiritual Islam bertemu dengan
kebudayaan spiritual Jawa, kemudian mengalami proses akulturasi dan
sinkretisme, akhirnya memadu dalam bentuk akulturasi (pencampuran kebudayaan spiritual) dapat
dilihat sebagai berikut:
Pertama, tampak pada tradisi upacara grebeg maulid pada masa pemerintahan Sultan Agung. Tradisi grebeg maulid ini berasal dari tradisi upacara setengah tahunan zaman Majapahit pada
abad ke-14 yang kemudian ditransformasikan ke zaman Mataram pada abad ke-17
melaui kesultanan Demak. Tradisi grebeg maulid ini masih berlangsung terus di keraton Yogyakarta setiap tahun sampai sekarang. Tradisi upacara grebeg ini merupakan bentuk akulturasi antara tradisi
upacara setengah tahunan pada zaman Majapahit (Hindu-Jawa) dan tradisi upacara
maulid (kebudayaan spiritual Islam). Rafael Raga Maran, 2007)
Kedua, pada zaman
Mataram tampak pada
upaya kerajaan ini untuk mencari hubungan kembali dengan zaman Islam, bahkan upaya untuk
mempersatukanya antara yang baru (Islam) dengan yang lama (Hindu), berhasil menjadi
kenyataan, dengan tindakannya memadukan tahun Hijriah (Islam) dengan tahun Saka (Hindu) menjadi
tahun Jawa. Tahun
Jawa ini ditetapkan oleh Sultan Agung dan merupakan bentuk akulturasi antara tahun Saka yang di hitungnya berdasarkan
peredaran matahari dan tahun Hijriah yang berdasarkan peredaran bulan. (Suwarno Imam, 2005)
Ketiga, tampak dalam seni bangunan, khusunya bangunan pintu
gerbang masjid dam makam. Sebelum zaman Islam seni bangunan gerbang baik masjid
maupun makam bercorak
Hindu. Kemudian berubah coraknya menjadi tampak ciri-ciri Islamnya, seperti
pada pintu gerbang
masjid di Giri dan pintu gerbang makam di Kota Gede dekat Yogyakarta. Seni bangunan ini
merupakan akulturasi antara corak seni bangunan Hindu-Jawa dan corak seni
bangunan Islam. (Syaikh Muhammad Abdullah, 2012)
Keempat, juga tampak dalam seni
pahat dan seni lukis.
Bila kebudayaan spiritual Islam menyukai seni melukis atau memahat tulisan
ayat-ayat Al-Quran dengan huruf Arab (seni kaligrafi) dan kebudayaan spiritual
Hindu-Jawa menyukai lukisan tokoh-tokoh wayang, maka para seniman mencoba
memadukan dalam bentuk
lukisan atau pahatan tokoh wayang dengan huruf-huruf Arab. Bila pahatan atau
lukisan itu dilihat
dari dekat, terdiri dari
huruf-huruf Arab seluruhnya, tetapi bila dilihat dari kejauhan, huruf-huruf
Arab seluruhnya itu membentuk salah satu tokoh wayang. Seni pahat dan lukis ini juga merupakan akulturasi antara seni
lukis atau pahat tokoh
wayang (kedudayaan
spiritual Hindu-Jawa)
dan seni lukisan atau pahatan tulisan ayat-ayat Al-Quran dengan huruf-huruf
Arab (kebudayaan spiritual
Islam). (Edy Sedyawati, 2012)
Kelima, pengaruh yang penting
tampak dalam karya
kesusasteraan dengan lahirnya naskah-naskah Jawa yang bernuansa mistik dan
keislaman sejak zaman
Mataram. Karya-karya kesusasteraan juga merupakan akulturasi antara karya
kesusasteraan Hindu-Jawa dan karya kesusasteraan kebudayaan spiritual Islam terutama dari segi
isinya. Karya-karya kesusasteraan di zaman Mataram berisi ajaran mistik.
Sementara itu, karya-karya kesusasteraan di zaman Kartasura berisi cerita
campuran antara cerita Jawa dan cerita Islam seperti serat Menak dan serat Kanda. Di zaman
Surakarta lahir serat-serat yang berisi cerita lakon wayang, ajaran moral dan
budi pekerti serta ilmu kesempurnaan. (Rafael Raga Maran, 2007)
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu sosiologi yang berarti pengambilalihan
unsur-unsur kebudayaan lain. Akulturasi terjadi karena adanya keterbukaan suatu
masyarakat.
Adapun hasil dari akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan kebudayaan
Islam, antara lain tradisi upacara grebeg, Tahun Jawa, seni bangunan khusunya bangunan pintu
gerbang masjid dam makam, seni pahat dan seni lukis, dalam karya kesusasteraan.
B. Saran
Setelah selsainya penulisan makalah ini penulis
mempunyai beberaapa saran, yaitu :
1. Hendaknya kita
menjaga keeratan keluarga antar umat beragama.
2. Hendaknya kita tetap teguh pada
semboyan bangsa kita “bhineka tunggal ika”.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S. M. (2012). Islam Ilmu Pengetahuan Dan Masyarakat Madani. Jakarta: Bumi Aksara.
Imam, S. (2005). Manusia, Mistik dalam Berbagai Kebatinan Jawa. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Kaelan. (2012). Islam Dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan. Jakarta: Bumi Aksara.
Kosim, M. (2012). Ritual dan Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Maran, R. R. (2007). Manusia Dan Kebudayaan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sedyawati, E. (2012). Budaya Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Langganan:
Komentar (Atom)