AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DAN SPIRITUAL ISLAM
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Luas pulau Jawa hanya 7% dari luas seluruh wilayah
Indonesia, tetapi jumlah penduduknya hampir dua per tiga (64%) dari jumlah
penduduk Indonesia. Keadaan pulau Jawa bersifat agraris, kebanyakan penduduknya
hidup sebagai petani, mereka tingggal di desa-desa. Dewasa ini orang Jawa telah tersebar luas mendiami hampir di seluruh pulau wilayah
kepulauan Indonesia.
Arus pengaruh Islam yang masuk ke Indonesia terutama
pantai utara Jawa itu dari Gurajat, dimana agama Islam telah disesuaikan dengan
jalan pemikiran India (Hindu), maka agama Islam yang tersebar di
pantai utara Jawa pada awal abad lima belas, banyak mengandung unsur mistik.
Demak, di samping sebagai pusat pemerintahan, juga menjadi pusat penyeberan Islam yang dilakukan oleh para
wali yang terkenal dengan ‘Wali Sembilan”.
Dalam penulisan makalah ini dilatar belakangi oleh
peleburan kebudayaan spiritual masyarakat Jawa dan kebudayaan spiritual Islam.
B. Rumusan masalah
Dalam penulisan makalah ini terdapat beberapa
permasalahan pokok, yaitu:
1. Apa itu
akulturasi?
2. Apa saja hasil akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan
kebudayaan Islam?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain:
1. Untuk
mempelajari dan mengetahui apa itu akulturasi.
2. Untuk mempelajari dan mengetahu apa saja yang termasuk
dalam hasil akulturasi kebudayaan
masyarakat Jawa dan kebudayaan Islam.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Akulturasi
Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu sosiologi yang berarti
pengambilalihan unsur-unsur kebudayaan lain. Akulturasi terjadi karena adanya
keterbukaan suatu
masyarakat. Selain itu “perkawinan” dua kebudayaan bisa terjadi karena
pemaksaan dari kebudayaan asing yang memasukkan unsur kebudayaan mereka. Selain
kedua hal itu, akulturasi dapat juga terjadi karena beberapa hal, antara lain: kontak dengan
budaya lain, sistem
pendidikan yang maju yang mengajarkan seseorang untuk lebih berfikir ilmiah dan
objektif, keinginan untuk maju, sikap mudah menerima hal-hal baru dan toleransi
terhadap perubahan. (Edy Sedyawati, 2012)
Contoh akulturasi budaya adalah
bangunan masjid kudus yang merupakan hasil akulturasi antara Islam dan Jawa (Hindu).
B.
Hasil akulturasi Kebudayaan Masyarakat Jawa dan
Kebudayaan Islam
Perpindahan pusat kerjaan Islam dari Demak ke Panjang kemudian dari Panjang ke Mataram, dimana Panjang dan Mataram merupakan
daerah pedalaman yang ekonominya lebih mendasar pada pertanian. Panjang adalah
daerah yang letaknya dekat Yogyakarta,
kedua daerah ini pada zaman lampau merupakan daerah yang kuat menerima pengaruh kebudayaan spiritual
Hindu-Budha di daerah seperti ini pulalah timbulnya cerita-cerita legenda
tentang orang-orang sakti. (Suwarno Imam, 2005)
Pengaruh kebudayaan spiritual Islam terhadap kebudayaan
spiritual Jawa tidak sekaligus, tetapi berlangsung sedikit demi sedikit. Timbulnya
cerita legenda dan orang-orang sakti merupakan bukti kebudayaan spiritual Islam yang dikembangkan oleh
para wali dengan toleransi yang tinggi
telah berhasil dalam mengadaptasikan dan mengembangkan kebudayaan spiritual
Jawa sebelumnya dalam
bentuk yang baru yakni kebudayaaan spiritual Islam-Jawa. (Muhammad Kosim, 2012)
Setelah kebudayaan spiritual Islam bertemu dengan
kebudayaan spiritual Jawa, kemudian mengalami proses akulturasi dan
sinkretisme, akhirnya memadu dalam bentuk akulturasi (pencampuran kebudayaan spiritual) dapat
dilihat sebagai berikut:
Pertama, tampak pada tradisi upacara grebeg maulid pada masa pemerintahan Sultan Agung. Tradisi grebeg maulid ini berasal dari tradisi upacara setengah tahunan zaman Majapahit pada
abad ke-14 yang kemudian ditransformasikan ke zaman Mataram pada abad ke-17
melaui kesultanan Demak. Tradisi grebeg maulid ini masih berlangsung terus di keraton Yogyakarta setiap tahun sampai sekarang. Tradisi upacara grebeg ini merupakan bentuk akulturasi antara tradisi
upacara setengah tahunan pada zaman Majapahit (Hindu-Jawa) dan tradisi upacara
maulid (kebudayaan spiritual Islam). Rafael Raga Maran, 2007)
Kedua, pada zaman
Mataram tampak pada
upaya kerajaan ini untuk mencari hubungan kembali dengan zaman Islam, bahkan upaya untuk
mempersatukanya antara yang baru (Islam) dengan yang lama (Hindu), berhasil menjadi
kenyataan, dengan tindakannya memadukan tahun Hijriah (Islam) dengan tahun Saka (Hindu) menjadi
tahun Jawa. Tahun
Jawa ini ditetapkan oleh Sultan Agung dan merupakan bentuk akulturasi antara tahun Saka yang di hitungnya berdasarkan
peredaran matahari dan tahun Hijriah yang berdasarkan peredaran bulan. (Suwarno Imam, 2005)
Ketiga, tampak dalam seni bangunan, khusunya bangunan pintu
gerbang masjid dam makam. Sebelum zaman Islam seni bangunan gerbang baik masjid
maupun makam bercorak
Hindu. Kemudian berubah coraknya menjadi tampak ciri-ciri Islamnya, seperti
pada pintu gerbang
masjid di Giri dan pintu gerbang makam di Kota Gede dekat Yogyakarta. Seni bangunan ini
merupakan akulturasi antara corak seni bangunan Hindu-Jawa dan corak seni
bangunan Islam. (Syaikh Muhammad Abdullah, 2012)
Keempat, juga tampak dalam seni
pahat dan seni lukis.
Bila kebudayaan spiritual Islam menyukai seni melukis atau memahat tulisan
ayat-ayat Al-Quran dengan huruf Arab (seni kaligrafi) dan kebudayaan spiritual
Hindu-Jawa menyukai lukisan tokoh-tokoh wayang, maka para seniman mencoba
memadukan dalam bentuk
lukisan atau pahatan tokoh wayang dengan huruf-huruf Arab. Bila pahatan atau
lukisan itu dilihat
dari dekat, terdiri dari
huruf-huruf Arab seluruhnya, tetapi bila dilihat dari kejauhan, huruf-huruf
Arab seluruhnya itu membentuk salah satu tokoh wayang. Seni pahat dan lukis ini juga merupakan akulturasi antara seni
lukis atau pahat tokoh
wayang (kedudayaan
spiritual Hindu-Jawa)
dan seni lukisan atau pahatan tulisan ayat-ayat Al-Quran dengan huruf-huruf
Arab (kebudayaan spiritual
Islam). (Edy Sedyawati, 2012)
Kelima, pengaruh yang penting
tampak dalam karya
kesusasteraan dengan lahirnya naskah-naskah Jawa yang bernuansa mistik dan
keislaman sejak zaman
Mataram. Karya-karya kesusasteraan juga merupakan akulturasi antara karya
kesusasteraan Hindu-Jawa dan karya kesusasteraan kebudayaan spiritual Islam terutama dari segi
isinya. Karya-karya kesusasteraan di zaman Mataram berisi ajaran mistik.
Sementara itu, karya-karya kesusasteraan di zaman Kartasura berisi cerita
campuran antara cerita Jawa dan cerita Islam seperti serat Menak dan serat Kanda. Di zaman
Surakarta lahir serat-serat yang berisi cerita lakon wayang, ajaran moral dan
budi pekerti serta ilmu kesempurnaan. (Rafael Raga Maran, 2007)
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu sosiologi yang berarti pengambilalihan
unsur-unsur kebudayaan lain. Akulturasi terjadi karena adanya keterbukaan suatu
masyarakat.
Adapun hasil dari akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan kebudayaan
Islam, antara lain tradisi upacara grebeg, Tahun Jawa, seni bangunan khusunya bangunan pintu
gerbang masjid dam makam, seni pahat dan seni lukis, dalam karya kesusasteraan.
B. Saran
Setelah selsainya penulisan makalah ini penulis
mempunyai beberaapa saran, yaitu :
1. Hendaknya kita
menjaga keeratan keluarga antar umat beragama.
2. Hendaknya kita tetap teguh pada
semboyan bangsa kita “bhineka tunggal ika”.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S. M. (2012). Islam Ilmu Pengetahuan Dan Masyarakat Madani. Jakarta: Bumi Aksara.
Imam, S. (2005). Manusia, Mistik dalam Berbagai Kebatinan Jawa. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Kaelan. (2012). Islam Dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan. Jakarta: Bumi Aksara.
Kosim, M. (2012). Ritual dan Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Maran, R. R. (2007). Manusia Dan Kebudayaan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sedyawati, E. (2012). Budaya Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar