Hubungan Antara Alqur'an dan Sains
Bagian 1
Firman Allah Ta'ala yang artinya: "Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia." (Surah Maa'idah: 97)
"Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah yang terletak
Ka'bah adalah pusat
ke
planet Bumi."
planet Bumi."
Sebenarnya di dalam Al-Qur'an terlebih dahulu membicarakan hal ini,
sebagai hamba Allah yang diberikan akal pikiran perlu meneliti dan berpikir
dibalik rahasia-rahasia yang terkandung didalam ayat-ayat suci Al-Quran
Al-Karim.
Bagian 2:
Firman Allah:
"Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan sekalian penduduk dunia di sekelilingnya (negeri-negeri di sekitarnya)." (Asy- Syura: 7)
Kata "Ummul Qura" berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya, menunjukkan Mekah adalah pusat untuk kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata "ummu" (ibu) memiliki arti yang cukup penting dan luas di dalam peradaban Islam. Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain serta keunggulan
di atas semua kota.
Bagian 3:
Allah berfirman yang artinya:
"Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan)." (Ar- Rahman: 33)
Kata "aqthar" adalah bentuk jamak dari kata "qutr" yang berarti diameter, dan ia mengacu
pada langit dan bumi yang memiliki banyak diameter. Berdasarkan ayat ini dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika
Makkah berada di tengah-tengah bumi, dengan itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah- tengah lapisan-lapisan langit. Selain itu ada hadits yang menjelaskan bahwa
Masjidil Haram di Mekah, tempat Ka'bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan yang membentuk bumi. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Wahai orang-
orang Mekkah, wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian berada di bawah
pertengahan langit." Berdasarkan penelitian di atas, bahwa Mekah berada pada tengah-tengah bumi (pusat dunia), maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. - (Dikutip dari Eramuslim "Makkah Sebagai Pusat Bumi" Oleh Dr. Mohamad Daudah)
Bagian 4:
Neil Amstrong membuktikan bahwa kota Mekah yang terletak Ka'bah adalah
pusat ke planet Bumi, sedangkan Al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu telah berbicara
mengenai kota Mekah dan Ka'bah adalah pusat bumi ini. Ketika kali pertama Neil
Amstrong melakukan
perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, "Planet Bumi ternyata bertumpu di area yang sangat gelap, dan di manakah ia berbasis?." Fakta ini telah diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah. Para astronot telah menemukan bahwa planet
Bumi itu mengeluarkan satu radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayangnya 21 hari kemudian website tersebut hilang dan seperti ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan lama web tersebut. Setelah melakukan penelitian lebih lanjut,
ternyatalah radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, dan tepatnya berasal dari Ka'bah. Yang
mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berakhir). Hal ini terbukti ketika
mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut. Para peneliti Muslim
mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka'Bah di
planet Bumi dengan Ka'bah di alam akhirat.
perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, "Planet Bumi ternyata bertumpu di area yang sangat gelap, dan di manakah ia berbasis?." Fakta ini telah diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah. Para astronot telah menemukan bahwa planet
Bumi itu mengeluarkan satu radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayangnya 21 hari kemudian website tersebut hilang dan seperti ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan lama web tersebut. Setelah melakukan penelitian lebih lanjut,
ternyatalah radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, dan tepatnya berasal dari Ka'bah. Yang
mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berakhir). Hal ini terbukti ketika
mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut. Para peneliti Muslim
mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka'Bah di
planet Bumi dengan Ka'bah di alam akhirat.
Bolehkan Menafsirkan Al-Quran dengan Riset Ilmiah ?
Jawab : Tidak Boleh
Menafsirkan Al-Quran dengan teori-teori ilmiah hasil penemuan masa kini
mengandung bahaya. Karena, apabila kita menafsirkan dengan landasan itu, dan
kemudia dimasa depan
munculteori-teori penemuan baru lainnya yang bertentangan maka konotasinya
Al-Quran mengandung muatan yang tidak benar dalam pandangan para musuh Islam. Adapun dalam kacamata kaum
muslimin, bahwa kesalahan muncul dari pandangan orang yang menafsirkan Al-Quran melalui
metode itu. Terlebih lagi musuh islam senantiasa mengincar dan mencari-cari
celah guna melemahkan Al-Quran.
Allah SWT. berfirman yang artinya :
“ Kami menurunkan Kitab (Al-Quran) yang penuh berkah kepadamu agar mereka
bertadabbur
(memperhatikan) ayat-ayatnya dan orang-orang yang berfikir dapat
mempelajarinya.”(Qs Shad/ 38:29)
Al-Quran tidak diturunkan untuk hakikat-hakitat yang dihasilkan melalui
eksperimen-eksperimen ilmiah, sehingga manusia baru mengetahuinya melalui
pencapaian ilmu
pengetahuan mereka.
Contoh penafsiran
Allah SWT. berfirman;
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ
أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا
نفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَ
“Wahai sekalian
jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus
(melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat
menembusnya kecuali dengan kekuatan. “ (Qs ar-Rahman / 55;33)
Ketika manusia peertama kali menginjakkan kaki dibulan, sebagain orang
menafsirkan ayat tadi
dengan kejadia tersebut. Mereka mengatakan bahwa pengrtian kata sulthan dalam
ayat adalah ilmu. Dengan pencapaian ilmu, mereka berhasil menembus batas-batas
bumi dan melawan gravitasi bumi. Ini adalah penefsiran keliru. Al-Quran tidak
boleh ditafsirkan
seperti ini. Sebab jika engkau telah memberikan kesaksian bahwa Allah
menghendaki makna itu sudah pasti menjadi persaksian yang serius yang kelak
engaku akan dimintai pertangggungjawabannya.
Barang siapa yang memperhatikan dengan seksama ayat di atas niscaya akan
mengetahui bahwa penafsiran seperti ini keliru/batil. Sebab ayat tersebut
menjelaskan keadaan manusia dan akhir nasib mereka nantinya. Karena ayat ini di
sebutkan setelah ayat berikut, yang artinya :
“ Semua yang ada di bumi akan binasa. Yang kekal hanya wajah rabbmu yang memiliki
keagungan dan kemuliaan. Maka kenikmatan Allah manakah yang kalian dustakan?” (Qs Ar-Rahman
55; 26-28)
Apakah mereka telah menembus seluruh penuru langit? Jawabannya tidak,
sebab Allah menyatakan :
“ Jika kalian
mampu menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi.” (Qs Ar-Rahman, 55 ;33)
Apakah diluncurkan kepada mereka kobaran api dan cairan tembaga?
Jawabannya juga tidak. Maka tidak benar penafsiran mereka tentang ayat 33 dari
suart ar-Rahman.
Jadi kesimpulannya
bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang telah mereka capai sesungguhnya hanyalah
ilmu-ilmu teoritis yang mereka hasilkan melalui berbagai percobaan. Adapun
mengotak-atik pengertian (ayat-ayat) Al-Quran untuk menjadikannya relevan
terhadap kejadian-kejadian semacam itu (hasil-hasil penemuan ilmiah), maka hal demikian tidak benar dan tidak boleh di lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar