Kamis, 31 Desember 2015

AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DAN SPIRITUAL ISLAM



AKULTURASI KEBUDAYAAN SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA DAN SPIRITUAL ISLAM


PENDAHULUAN

A.      Latar belakang
Luas pulau Jawa hanya 7% dari luas seluruh wilayah Indonesia, tetapi jumlah penduduknya hampir dua per tiga (64%) dari jumlah penduduk Indonesia. Keadaan pulau Jawa bersifat agraris, kebanyakan penduduknya hidup sebagai petani, mereka tingggal di desa-desa. Dewasa ini orang Jawa telah tersebar luas mendiami hampir di seluruh pulau wilayah kepulauan Indonesia.
Arus pengaruh Islam yang masuk ke Indonesia terutama pantai utara Jawa itu dari Gurajat, dimana agama Islam telah disesuaikan dengan jalan pemikiran India (Hindu), maka agama Islam yang tersebar di pantai utara Jawa pada awal abad lima belas, banyak mengandung unsur mistik. Demak, di samping sebagai pusat pemerintahan, juga menjadi pusat penyeberan Islam yang dilakukan oleh para wali yang terkenal dengan ‘Wali Sembilan”.
Dalam penulisan makalah ini dilatar belakangi oleh peleburan kebudayaan spiritual masyarakat Jawa dan kebudayaan spiritual Islam.
B.       Rumusan masalah
Dalam penulisan makalah ini terdapat beberapa permasalahan pokok, yaitu:
1.    Apa itu akulturasi?
2.    Apa saja hasil akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan kebudayaan Islam?
C.       Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain:
1.    Untuk mempelajari dan mengetahui apa itu akulturasi.
2.    Untuk mempelajari dan mengetahu apa saja yang termasuk dalam hasil akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan kebudayaan Islam.


PEMBAHASAN

A.           Pengertian Akulturasi

Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu sosiologi yang berarti pengambilalihan unsur-unsur kebudayaan lain. Akulturasi terjadi karena adanya keterbukaan suatu masyarakat. Selain itu “perkawinan” dua kebudayaan bisa terjadi karena pemaksaan dari kebudayaan asing yang memasukkan unsur kebudayaan mereka. Selain kedua hal itu, akulturasi dapat juga terjadi karena beberapa hal, antara lain: kontak dengan budaya lain, sistem pendidikan yang maju yang mengajarkan seseorang untuk lebih berfikir ilmiah dan objektif, keinginan untuk maju, sikap mudah menerima hal-hal baru dan toleransi terhadap perubahan. (Edy Sedyawati, 2012)

 Contoh akulturasi budaya adalah bangunan masjid kudus yang merupakan hasil akulturasi antara Islam dan Jawa (Hindu).

B.            Hasil akulturasi Kebudayaan Masyarakat Jawa dan  Kebudayaan Islam

Perpindahan pusat kerjaan Islam dari Demak ke Panjang kemudian dari Panjang ke Mataram, dimana Panjang dan Mataram merupakan daerah pedalaman yang ekonominya lebih mendasar pada pertanian. Panjang adalah daerah  yang letaknya dekat Yogyakarta, kedua daerah ini pada zaman lampau merupakan daerah yang kuat menerima pengaruh kebudayaan spiritual Hindu-Budha di daerah seperti ini pulalah timbulnya cerita-cerita legenda tentang orang-orang sakti. (Suwarno Imam, 2005)

Pengaruh kebudayaan spiritual Islam terhadap kebudayaan spiritual Jawa tidak sekaligus, tetapi berlangsung sedikit demi sedikit. Timbulnya cerita legenda dan orang-orang sakti merupakan bukti kebudayaan spiritual Islam yang dikembangkan oleh para wali dengan toleransi yang tinggi telah berhasil dalam mengadaptasikan dan mengembangkan kebudayaan spiritual Jawa sebelumnya dalam bentuk yang baru yakni kebudayaaan spiritual Islam-Jawa. (Muhammad Kosim, 2012)

Setelah kebudayaan spiritual Islam bertemu dengan kebudayaan spiritual Jawa, kemudian mengalami proses akulturasi dan sinkretisme, akhirnya memadu dalam bentuk akulturasi (pencampuran kebudayaan spiritual) dapat dilihat sebagai berikut:

Pertama, tampak pada tradisi upacara grebeg maulid pada masa pemerintahan Sultan Agung. Tradisi grebeg maulid ini berasal dari tradisi upacara setengah tahunan zaman Majapahit pada abad ke-14 yang kemudian ditransformasikan ke zaman Mataram pada abad ke-17 melaui kesultanan Demak. Tradisi grebeg maulid ini masih berlangsung terus di keraton Yogyakarta setiap tahun sampai sekarang. Tradisi upacara grebeg ini merupakan bentuk akulturasi antara tradisi upacara setengah tahunan pada zaman Majapahit (Hindu-Jawa) dan tradisi upacara maulid (kebudayaan spiritual Islam). Rafael Raga Maran, 2007)

Kedua, pada zaman Mataram tampak pada upaya kerajaan ini untuk mencari hubungan kembali dengan zaman Islam, bahkan upaya untuk mempersatukanya  antara yang baru (Islam) dengan yang lama (Hindu), berhasil menjadi kenyataan, dengan tindakannya memadukan tahun Hijriah (Islam) dengan tahun Saka (Hindu) menjadi tahun Jawa. Tahun Jawa ini ditetapkan oleh Sultan Agung dan merupakan  bentuk akulturasi antara tahun Saka yang di hitungnya berdasarkan peredaran matahari dan tahun Hijriah yang berdasarkan peredaran bulan. (Suwarno Imam, 2005)

Ketiga, tampak dalam seni bangunan, khusunya bangunan pintu gerbang masjid dam makam. Sebelum zaman Islam seni bangunan gerbang baik masjid maupun makam bercorak Hindu. Kemudian berubah coraknya menjadi tampak ciri-ciri Islamnya, seperti pada pintu gerbang masjid di Giri dan pintu gerbang makam di Kota Gede dekat Yogyakarta. Seni bangunan ini merupakan akulturasi antara corak seni bangunan Hindu-Jawa dan corak seni bangunan Islam. (Syaikh Muhammad Abdullah,  2012)

Keempat, juga tampak dalam seni pahat dan seni lukis. Bila kebudayaan spiritual Islam menyukai seni melukis atau memahat tulisan ayat-ayat Al-Quran dengan huruf Arab (seni kaligrafi) dan kebudayaan spiritual Hindu-Jawa menyukai lukisan tokoh-tokoh wayang, maka para seniman mencoba memadukan dalam bentuk lukisan atau pahatan tokoh wayang dengan huruf-huruf Arab. Bila pahatan atau lukisan itu dilihat dari dekat, terdiri dari huruf-huruf Arab seluruhnya, tetapi bila dilihat dari kejauhan, huruf-huruf Arab seluruhnya itu membentuk salah satu tokoh wayang. Seni pahat dan lukis ini juga merupakan akulturasi antara seni lukis atau pahat tokoh wayang (kedudayaan spiritual Hindu-Jawa) dan seni lukisan atau pahatan tulisan ayat-ayat Al-Quran dengan huruf-huruf Arab (kebudayaan spiritual Islam). (Edy Sedyawati, 2012)

Kelima, pengaruh yang penting tampak dalam karya kesusasteraan dengan lahirnya naskah-naskah Jawa yang bernuansa mistik dan keislaman sejak zaman Mataram. Karya-karya kesusasteraan juga merupakan akulturasi antara karya kesusasteraan Hindu-Jawa dan karya kesusasteraan kebudayaan spiritual Islam terutama dari segi isinya. Karya-karya kesusasteraan di zaman Mataram berisi ajaran mistik. Sementara itu, karya-karya kesusasteraan di zaman Kartasura berisi cerita campuran antara cerita Jawa dan cerita Islam seperti serat Menak dan serat Kanda. Di zaman Surakarta lahir serat-serat yang berisi cerita lakon wayang, ajaran moral dan budi pekerti serta ilmu kesempurnaan. (Rafael Raga Maran, 2007)

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu sosiologi yang berarti pengambilalihan unsur-unsur kebudayaan lain. Akulturasi terjadi karena adanya keterbukaan suatu masyarakat.

Adapun hasil dari akulturasi kebudayaan masyarakat Jawa dan kebudayaan Islam, antara lain tradisi upacara grebeg, Tahun Jawa, seni bangunan khusunya bangunan pintu gerbang masjid dam makam, seni pahat dan seni lukis,  dalam karya kesusasteraan.

B.  Saran
Setelah selsainya penulisan makalah ini penulis mempunyai beberaapa saran, yaitu :
1.    Hendaknya kita menjaga keeratan keluarga antar umat beragama.
2.    Hendaknya kita tetap teguh pada semboyan bangsa kita “bhineka tunggal ika”.


DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, S. M. (2012). Islam Ilmu Pengetahuan Dan Masyarakat Madani. Jakarta: Bumi Aksara.
Imam, S. (2005). Manusia, Mistik dalam Berbagai Kebatinan Jawa. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Kaelan. (2012). Islam Dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan. Jakarta: Bumi Aksara.
Kosim, M. (2012). Ritual dan Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Maran, R. R. (2007). Manusia Dan Kebudayaan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sedyawati, E. (2012). Budaya Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.


Hubungan Antara Alqur'an dan Sains




Hubungan Antara Alqur'an dan Sains
Bagian 1

Firman Allah Ta'ala yang artinya: "Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia." (Surah Maa'idah: 97)
"Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah yang terletak Ka'bah adalah pusat ke
planet Bumi."
Sebenarnya di dalam Al-Qur'an terlebih dahulu membicarakan hal ini, sebagai hamba Allah yang diberikan akal pikiran perlu meneliti dan berpikir dibalik rahasia-rahasia yang terkandung didalam ayat-ayat suci Al-Quran Al-Karim.
Bagian 2:
Firman Allah:

"Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan sekalian penduduk dunia di sekelilingnya (negeri-negeri di sekitarnya)." (Asy- Syura: 7)

Kata "Ummul Qura" berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya, menunjukkan Mekah adalah pusat untuk kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata "ummu" (ibu) memiliki arti yang cukup penting dan luas di dalam peradaban Islam. Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain serta keunggulan
di atas semua kota.
Bagian 3:
Allah berfirman yang artinya:

"Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan)." (Ar- Rahman: 33)

Kata "aqthar" adalah bentuk jamak dari kata "qutr" yang berarti diameter, dan ia mengacu
pada langit dan bumi yang memiliki banyak diameter. Berdasarkan ayat ini dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika
Makkah berada di tengah-tengah bumi, dengan itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah- tengah lapisan-lapisan langit. Selain itu ada hadits yang menjelaskan bahwa
Masjidil Haram di Mekah, tempat Ka'bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan yang membentuk bumi. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Wahai orang-
orang Mekkah, wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian berada di bawah
pertengahan langit." Berdasarkan penelitian di atas, bahwa Mekah berada pada tengah-tengah bumi (pusat dunia), maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. - (Dikutip dari Eramuslim "Makkah Sebagai Pusat Bumi" Oleh Dr. Mohamad Daudah)
Bagian 4:
Neil Amstrong membuktikan bahwa kota Mekah yang terletak Ka'bah adalah pusat ke planet Bumi, sedangkan Al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu telah berbicara mengenai kota Mekah dan Ka'bah adalah pusat bumi ini. Ketika kali pertama Neil Amstrong melakukan
perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, "Planet Bumi ternyata bertumpu di area yang sangat gelap, dan di manakah ia berbasis?." Fakta ini telah diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah. Para astronot telah menemukan bahwa planet
Bumi itu mengeluarkan satu radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayangnya 21 hari kemudian website tersebut hilang dan seperti ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan lama web tersebut. Setelah melakukan penelitian lebih lanjut,
ternyatalah radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, dan tepatnya berasal dari Ka'bah. Yang
mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berakhir). Hal ini terbukti ketika
mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut. Para peneliti Muslim
mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka'Bah di
planet Bumi dengan Ka'bah di alam akhirat.
Bolehkan Menafsirkan Al-Quran dengan Riset Ilmiah ?
Jawab : Tidak Boleh
Menafsirkan Al-Quran dengan teori-teori ilmiah hasil penemuan masa kini mengandung bahaya. Karena, apabila kita menafsirkan dengan landasan itu, dan kemudia dimasa depan munculteori-teori penemuan baru lainnya yang bertentangan maka konotasinya Al-Quran mengandung muatan yang tidak benar dalam pandangan para musuh Islam. Adapun dalam kacamata kaum muslimin, bahwa kesalahan muncul dari pandangan orang yang menafsirkan Al-Quran melalui metode itu. Terlebih lagi musuh islam senantiasa mengincar dan mencari-cari celah guna melemahkan Al-Quran.
Allah SWT. berfirman yang artinya :
“ Kami menurunkan Kitab (Al-Quran) yang penuh berkah kepadamu agar mereka bertadabbur (memperhatikan) ayat-ayatnya dan orang-orang yang berfikir dapat mempelajarinya.”(Qs Shad/ 38:29)
Al-Quran tidak diturunkan untuk hakikat-hakitat yang dihasilkan melalui eksperimen-eksperimen ilmiah, sehingga manusia baru mengetahuinya melalui pencapaian ilmu pengetahuan mereka.
Contoh penafsiran
Allah SWT. berfirman;
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا
 نفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَ
Wahai sekalian  jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. “ (Qs ar-Rahman / 55;33)
Ketika manusia peertama kali menginjakkan kaki dibulan, sebagain orang menafsirkan ayat tadi dengan kejadia tersebut. Mereka mengatakan bahwa pengrtian kata sulthan dalam ayat adalah ilmu. Dengan pencapaian ilmu, mereka berhasil menembus batas-batas bumi dan melawan gravitasi bumi. Ini adalah penefsiran keliru. Al-Quran tidak boleh ditafsirkan seperti ini. Sebab jika engkau telah memberikan kesaksian bahwa Allah menghendaki makna itu sudah pasti menjadi persaksian yang serius yang kelak engaku akan dimintai pertangggungjawabannya.
Barang siapa yang memperhatikan dengan seksama ayat di atas niscaya akan mengetahui bahwa penafsiran seperti ini keliru/batil. Sebab ayat tersebut menjelaskan keadaan manusia dan akhir nasib mereka nantinya. Karena ayat ini di sebutkan setelah ayat berikut, yang artinya :
“ Semua yang ada di bumi akan binasa. Yang kekal hanya wajah rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Maka kenikmatan Allah manakah yang kalian dustakan? (Qs Ar-Rahman 55; 26-28)
Apakah mereka telah menembus seluruh penuru langit? Jawabannya tidak, sebab Allah menyatakan :
“ Jika kalian mampu menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi.” (Qs Ar-Rahman, 55 ;33)
Apakah diluncurkan kepada mereka kobaran api dan cairan tembaga? Jawabannya juga tidak. Maka tidak benar penafsiran mereka tentang ayat 33 dari suart ar-Rahman.
Jadi kesimpulannya bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang telah mereka capai sesungguhnya hanyalah ilmu-ilmu teoritis yang mereka hasilkan melalui berbagai percobaan. Adapun mengotak-atik pengertian (ayat-ayat) Al-Quran untuk menjadikannya relevan terhadap kejadian-kejadian semacam itu (hasil-hasil penemuan ilmiah), maka hal demikian tidak benar dan tidak boleh di lakukan.